EVALUASI PELATIHAN PENDIDIKAN KETERAMPILAN HIDUP UNTUK GURU SMP, SMA DAN SMK MELALUI GURU BELAJAR DAN GURU BERBAGI KEMDIKBUDRISTEK

Pada tahun 2021, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (KEMDIKBUDRISTEK) bekerjasama dengan UNICEF telah menginisiasi pelatihan bauran (blended learning) Pendidikan Keterampilan Hidup (PKH) untuk guru-guru SMP, SMA dan SMK melalui platform Guru Belajar dan Guru Berbagi (GBB). Tercatat 2.292 guru-guru telah menuntaskan keseluruhan rangkaian pelatihan yang terdiri atas pelatihan e-learning, bimbingan teknis (coaching clinic) dan pengimbasan.

Untuk mengukur pencapaian dan efektivitas pelatihan PKH melalui platform GBB, UNICEF menunjuk Tulodo Indonesia untuk melakukan evaluasi. Salah satu kegiatan evaluasi adalah observasi dan mendokumentasikan proses belajar-mengajar tatap muka atau, bila tidak memungkinkan, metode daring yang melibatkan guru-guru, siswa/i, dan komunitas sekolah.

Berdasarkan data peserta dan diskusi dengan berbagai pihak, Kota Semarang dianggap menjadi lokasi yang paling tepat untuk keperluan observasi dan dokumentasi ini. Metode yang dipergunakan adalah metode “sensory ethnographic documentary,” yaitu sebuah pendekatan audio-visual (video dokumenter) yang merekam percakapan, keterampilan, dan juga umpan balik dari guru-guru, siswa, beserta masyarakat sekolah lainnya.

Tujuan utama dari dokumentasi ini adalah memberikan kesempatan pada sekolah untuk mengembangkan narasi partisipatoris dengan menggunakan bahasa dan tafsir mereka sendiri-sendiri dan tidak untuk memberikan penilaian di level individu atau pun sekolah.

 

LATAR BELAKANG

Pendidikan Keterampilan Hidup (PKH) mengacu pada kompetensi dan keterampilan interpersonal yang dapat membantu kaum muda menavigasi kehidupan mereka secara sehat dan produktif. Memberikan PKH yang berkualitas kepada kaum muda dapat membekali mereka dengan keterampilan untuk mengelola hidup mereka dengan cara yang sehat dan efektif. Keterampilan tersebut berlaku secara universal dan generik, tetapi intervensi psikososial tertentu telah diidentifikasi sebagai sangat relevan untuk menangani risiko tertentu. Di Indonesia, PKH telah dikembangkan terutama oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). PKH didefinisikan sebagai pendidikan untuk mengembangkan kemampuan beradaptasi dan perilaku positif, yang mendukung individu untuk menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari secara efektif. Bekerjasama dengan UNICEF, PKH dikembangkan lebih lanjut dan disampaikan sebagai pengetahuan, nilai, sikap dan keterampilan yang saling berhubungan dan dapat diterapkan dalam berbagai konteks. UNICEF menawarkan dan mempromosikan berbagai tema yang dapat mendukung pengembangan PKH, termasuk melalui komponen sosial kewarganegaraan aktif.

Di tahun 2020-2021, integrasi PKH dilakukan sebagai penguatan Profil Pelajar Pancasila melalui platform Guru Belajar dan Guru Berbagi (GBB). Profil Pelajar Pancasila menjadi pedoman arah kebijakan pendidikan dalam hal pengembangan karakter dan kualitas esensial, termasuk soft skill. Profil tersebut tercermin pada peserta didik yang:

  1. mampu beradaptasi dan hidup dalam konteks keragaman global;
  2. tertarik dengan kerjasama tim (bergotong-royong);
  3. berpikir kreatif;
  4. penalaran kritis;
  5. mandiri;
  6. memiliki keyakinan agama, taqwa dan moralitas yang baik.

Di bawah Profil Pelajar Pancasila, PKH dan ketrampilan abad 21 dihadirkan sebagai satu konten pembelajaran yang saling menguatkan (bukan bersaing).

 

LANDASAN TEORI

Pendidikan Keterampilan Hidup (PKH) bagi para guru SMP dan SMA/SMK di Indonesia dirancang agar Anda dapat mendukung peserta didik dalam mengembangkan keterampilan abad ke-21 (seperti pemecahan masalah, kreativitas dan komunikasi), dan agar mereka memperoleh pengetahuan komprehensif tentang berbagai topik penting (seperti kesetaraan gender, keamanan menggunakan internet, dan perundungan/bullying). Metodologi yang digunakan dalam sesi-sesi pembelajaran PKH sangat bervariasi, termasuk permainan, diskusi, penilaian diri, role-play/drama, studi kasus, pekerjaan rumah, pemetaan pemikiran, tugas proyek, dan presentasi.

 

APA TUJUAN PROGRAM GURU BELAJAR DAN BERBAGI SERI PENDIDIKAN KETERAMPILAN HIDUP

  1. Meningkatkan kompetensi guru terkait topik-topik Pendidikan Keterampilan Hidup sehingga dapat mendukung peserta didik mengembangkan keterampilan abad ke-21 guna mencapai tujuan pendidikan nasional Indonesia.
  2. Mengembangkan keterampilan guru dalam memfasilitasi pembelajaran Pendidikan Keterampilan Hidup kepada peserta didik dengan menggunakan metode pembelajaran yang aktif, partisipatif dan menyenangkan.

 

TUJUAN OBSERVASI

Penelitian ini bertujuan untuk mengukur efektivitas pembelajaran Pendidikan Keterampilan Hidup (PKH) bagi guru melalui pembelajaran bauran (blended learning). Pengukuran efektivitas dilakukan pada semua tahapan orientasi, e-learning, coaching clinic, dan pengimbasan. Salah satu bentuk pengukuran (assessment) yang akan dilakukan adalah mendokumentasikan praktik pembelajaran PKH dari guru kepada siswa melalui observasi dengan pendekatan partisipatoris audio visual atau yang disebut dengan etnografi sensorik yang menggunakan perangkat audio-visual. Observasi yang dilakukan bertujuan untuk mengevaluasi implementasi PKH pada praktik pembelajaran campuran di sekolah. Secara khusus, observasi yang dilakukan dengan membuat rekaman audio visual dengan gambaran sebagai berikut:

  1. Pendapat guru mengenai PKH dan bagaimana pengajaran PKH memberikan dampak pada siswa-siswi mereka.
  2. Proses yang dilakukan guru-guru dalam menyampaikan materi PKH kepada siswa
  3. Gambaran umum proses pembelajaran yang dilakukan di kelas
  4. Tanggapan siswa atas PKH
  5. Tanggapan kepala sekolah mengenai PKH
  6. Umpan balik guru atas pelatihan yang mereka dapatkan
  7. Penyampaian pesan dilakukan melalui proses partisipatif untuk keperluan evaluasi dan advokasi
  8. Seluruh proses pengambilan data, gambar, dan suara dilakukan dengan memperhatikan pedoman etik dan menjunjung harkat martabat partisipan.

 

KRITERIA SEKOLAH

Untuk melakukan observasi dan dokumentasi audio visual, terdapat beberapa kriteria yang harus dipenuhi yaitu:

  1. Terbatas pada sekolah-sekolah yang memiliki setidaknya satu guru yang sudah menuntaskan pelatihan PKH-GBB (e-learning, bimbingan teknis / coaching clinic, pengimbasan)
  2. Jumlah sekolah yang diobservasi sebanyak 3 (tiga) sekolah yang masing-masing mewakili jenjang SMP, SMA, dan SMK.
  3. Keseimbangan gender guru-guru yang telah menuntaskan pelatihan.
  4. Keseimbangan mata pelajaran antara guru Bimbingan Konseling/Pendidikan Jasmani dengan guru mata pelajaran eksakta (matematika, IPA, Fisika, Kimia) dan mata pelajaran sosial humaniora (Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Agama, IPS, Sosiologi, Antropologi) atau pun mata pelajaran vokasi (SMK).
  5. Letak geografis (urban, semi-urban dan rural)

 

WAKTU KUNJUNGAN DAN AGENDA

Waktu kunjungan yang kami lakukan adalah 1 (satu) hari per sekolah dengan rentang waktu, yaitu tanggal 29 Maret – 1 April 2022. Agenda kunjungan dapat dilihat dalam tabel di bawah.

 

METODE

Pengamatan dan Dokumentasi Audio Visual di SMP, SMA dan SMK Kota Semarang

 

OUTPUT KEGIATAN

Materi video dokumentasi yang menggambarkan pengalaman, motivasi, pemicu, pendukung dan penghambat pelaksanaan pengajaran PKH oleh guru-guru dari berbagai mata pelajaran.

 

TANGGAL/WAKTU

AGENDA

LOKASI

Selasa, 29 Maret 2022

1.     Perkenalan dan koordinasi dengan guru dan kepala sekolah (60 menit)

2.     Observasi proses pembelajaran PKH di kelas (100 menit)

3.     Wawancara dengan guru (30 menit)

4.     – Wawancara dengan siswa: 1 laki-laki & 1 perempuan (@30 menit)

Sekolah 1 (SMP)

 

SMP 18 Semarang

 

 

 

Rabu, 30 Maret 2022

1.     Perkenalan dan koordinasi dengan guru dan kepala sekolah (60 menit)

2.     Observasi proses pembelajaran PKH di kelas (100 menit)

3.     Wawancara dengan guru (30 menit)

4.     – Wawancara dengan siswa: 1 laki-laki & 1 perempuan (@30 menit)

Sekolah 2 (SMA)

 

SMA Muh. 1 Semarang

 

 

 

Kamis, 31 Maret 2022

1.     Perkenalan dan koordinasi dengan guru dan kepala sekolah (60 menit)

2.     Observasi proses pembelajaran PKH di kelas (100 menit)

3.     Wawancara dengan guru (30 menit) Wawancara dengan siswa: 1 laki-laki & 1 perempuan (@30 menit)

Sekolah 3 (SMK)

 

Sri Widodo, S.Pd

SMK N 5 Semarang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TENTANG TULODO

Indonesia Tulodo Indonesia adalah organisasi yang memberikan dukungan konsultan dan manajemen proyek di Indonesia. Salah satu spesialisasi utama kami adalah perubahan sosial dan perilaku. Layanan kami termasuk membantu melakukan penelitian melalui penelitian baseline, endline serta monitoring dan evaluasi terutama terkait isu-isu perubahan perilaku untuk bidang sosial, kesehatan, pendidikan, teknologi, lingkungan, pertanian, hak asasi, keuangan mikro, air dan sanitasi, dan lainnya. Saat ini Tulodo menjadi partner dari UNICEF Indonesia dalam melakukan penelitian dan penilaian Program Pendidikan Keterampilan Hidup (PKH). Profil Tulodo Indonesia dapat diakses melalui laman www.tulodo.com

 

TEMBUSAN:

  1. Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, KEMDIKBUD
  2. Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Menengah dan Khusus, KEMDIKBUD
  3. Sekretaris Daerah Kota Semarang
  4. UNICEF Indonesia Country Office

 

PENUTUP

Peserta didik merdeka belajar agar tercapai profil pelajar Pancasila yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, kreatif, bergotong royong dan berkebebinekaan global agar peserta didik menguasai ketrampilan abad 21, Keterampilan tersebut diistilahkan dengan 4 C, yang merupakan singkatan dari Critical Thinking atau berpikir kritis, Collaboration atau kemampuan bekerja sama dengan baik, Communication atau kemampuan berkomunikasi, dan Creativity atau kreatifitas.

Untuk mewujudakan hal tersebut dibutuhkan guru-guru yang mempunyai komitmen. Komitmen dan kesadaran diri untuk mengembangkan diri dengan selalu belajar berbagai hal demi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Salah satunya adalah guru belajar tentang Pendidikan Ketrampilan Hidup agar bisa menyampaikan kepada peserta didik sebagai bekal menjalani kehidupannya.

 

Penulis: Sri Widodo, S.Pd., Gr.

Leave a Reply

Your email address will not be published.